Puncak Syawalan di Solo Oktober 9, 2008
Posted by sukolaras in Budaya Jawa.Tags: syawalan, tradisi
add a comment
Perayaan Pekan Syawalan di Solo diselenggarakan di Taman Jurug pinggir tepi Sungai Bengawan Solo. Tradisi yang sudah berjalan setiap tahun ini diawali dengan arak-arakan pasukan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Sepanjang jalan arak-arakan prajurit Tamtama dan Lombok Abang terus menyebarkan udik-udik (uang receh) sebagai simbol persembahan raja kepada rakyatnya. Kegiatan ini dipercayai oleh semua warga karena dapat mendatangkan berkah tersendiri. Gunungan ketupat yang didatangkan dari keraton, merupakan simbol pengakuan salah dan permohonan maaf. Setelah dilakukan pembacaan doa, gunungan ketupat mulai diperebutkan oleh ribuan warga yang hadir disitu. Dengan ketupat itu warga percaya akan mendatangkan berkah (ketupat artinya kulat lepatĀ atau saya salah), sayangnya tradisi kali ini tidak diikuti dengan Kirab Kebo Bule sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, dan juga tidak diakhiri dengan larung Jaka Tingkir di Bengawan Solo yang diperankan oleh Kanjeng Pangeran Pundra dengan kendaraan kereta kencana Kiai Morosebo dari Pura Mangkunegaran, oleh karena debit air tidak mengijinkan/dangkal.
Sumber : dari berbagai sumber Mass Media.













